Cari
  • Tatas Brotosudarmo

Hoax, Retorika dan Scientific Temper

Tulisan ini telah diterbitkan oleh NADI 26/2019, majalah untuk alumni DAAD Indonesia, hal. 70


Bagi yang suka nonton, mungkin masih ingat film Star Wars: The Force Awakens di akhir tahun 2015. Film fiksi ilmiah ini berhasil menggaet penonton Indonesia dan sukses meraup Rp. 39 miliar dalam sepekan. Tak lupa lantaran film ini turut dibintangi tiga anak negeri: Iko Uwais, Yayan Ruhian dan Cecep Rahman.


Namun hal yang menarik perhatian saya adalah kalimat yang diucapkan oleh Qui-Gon Jinn kepada Anakin Skywalker:


"Without the midichlorians, life could not exist, and we would have no knowledge of the Force. They continually speak to us, telling us the will of the Force. When you learn to quiet your mind, you'll hear them speaking to you."


Sebagai seorang biokimiawan fotosintesis tentu ada jargon yang langsung masuk di telinga. Apakah itu midichlorians? Kok sepertinya tidak asing, namun terdengar sangat aneh. Saya tahu benar terminologi mitokondria yaitu organel sel tempat berlangsungnya reaksi untuk konversi gula, lemak dan oksigen menjadi energi bagi sel. Demikian juga kloroplas, tempat terjadinya proses fotosintesis dengan pigmen klorofil yang mampu menangkap energi cahaya menjadi energi bagi sel. Rupanya George Lucas mengambil kedua istilah tersebut dan memadukannya menjadi jargon midichlorians, yang menerangkan organel selular mikroskopis yang memberikan kekuatan the Force kepada pejuang Jedi.


Mengejutkan bahwa di Juli 2017, ada makalah mengganti kata mitokondria menjadi midichlorian diterima oleh empat jurnal ilmiah sekaligus.[1] Artikel hoax tersebut ditulis oleh Neuroskeptic, pseudonim untuk seorang blogger di majalah Discover, yang ingin mengekspos jurnal-jurnal predator. Dalam banyak kasus, kata Jeffrey Beall, mitra bestari (peer reviewer) yang seharusnya memeriksa manuskrip artikel tersebut tidak ada. Bahkan pemilik jurnal sendirilah yang berperan sebagai reviewer. Jurnal-jurnal seperti itu jelas melukai sains dengan memikat para peneliti yang tidak menaruh curiga dan meminta mereka menerbitkannya. Sayangnya beberapa dosen dan peneliti bahkan ada yang dengan sengaja menggunakan jurnal predator untuk meningkatkan jumlah publikasi mereka guna promosi, misalnya h-index.


Pada tahun 1996, Alan Sokal, seorang profesor fisika di New York University dan profesor matematika di University College London sengaja menuliskan (ngeprank) esai hoax pada jurnal Social Text yang dimaksudkan untuk mengirim pesan tentang keakuratan intelektual pemikiran postmodern. Paper sepanjang 39 halaman ditulis begitu ambisius dengan jargon-jargon akademis. Sokal memberi judul sangat bombastis yaitu “Transgressing the Boundaries: Toward a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity”.[2] Tidak kalah seru isi artikel dirajut dengan apik menyitir pemikiran Jacques Derrida, Jean-Francois Lyotard, Luce Irigaray, Gilles Deleuze, Felix Guattari dan Jacques Lacan. Bahkan Sokal memadukannya dengan teori-teori Heisenberg, Einstein dan Niels Bohr. Tiga minggu kemudian Sokal menuliskan keterangan di majalah akademis yang sekarang sudah tidak ada, Lingua Franca, serta mengungkap bahwa artikel sebelumnya tersebut adalah hoax.


Kita lihat bahwa Hoax Sokal dan Midichlorians, pada tingkat tertentu, dapat golongkan sebagai suatu retorik[3] yang telah berhasil mempersuasi pembaca yaitu reviewer yang menyetujui terbitnya artikel. Mungkin kita mencibir mengapa reviewer tersebut bisa meloloskan artikel yang tidak masuk akal. Bukankah reviewer jurnal ilmiah seharusnya adalah para ahli yang bertugas menjaga Scientific Temper. Semenjak dua kejadian tersebut masyarakat ilmiah menjadi semakin aware terhadap pentingnya proses penelaahan sejawat (peer-reviewed) yang dilakukan oleh beberapa ahli yang telah dikenal dibidangnya. Proses ini cukup ketat sehingga terkadang memakan waktu yang cukup panjang. Namun demikian media komunikasi sains dengan jurnal ilmiah hanya menjangkau masyarakat ilmiah akademis. Bahasa dan jargon yang digunakan dalam tulisan jurnal ilmiah pun disesuaikan dengan konsumsi masyarakat akademis.


Dewasa ini perkembangan media informasi dan komunikasi merupakan kunci kita mendekatkan sains kepada masyarakat yang lebih luas. Media televisi telah digeser dengan media internet. Tidak kurang dari 143 juta pengguna internet eksis di Indonesia. Ini setara dengan 54% dari total 262 juta penduduk Indonesia. Dalam survey Kominfo tahun 2017, pengguna cenderung mengakses YouTube (43%), Facebook (41%), Instagram (38%), Twitter (27%), dan lain-lain. Sedangkan Whatsapp (40%) masih menjadi aplikasi obrolan terpopuler, diikuti dengan Line (33%), dan yang lainnya. Rata-rata waktu yang dipakai pengguna untuk mengakses internet mencapai durasi 7 jam per hari.


Dengan demikian media ini menjadi sangat efektif digunakan untuk bertukar informasi. Siapa saja dapat mendirikan mimbar podiumnya dan menjadi ahli dibidang yang diinginkan. Di dalamnya sering juga muncul hoax khususnya seputar sains, misalnya berkaitan dengan pemelintiran pemahaman kimia untuk meraup keuntungan. Sebagai contoh air minum hexagonal yang secara keilmuwan tidak benar, namun digunakan untuk marketing. Contoh yang lain adalah kepercayaan monosidum glutamate (MSG) dan pemanis buatan aspartame menyebabkan berbagai masalah seperti kanker. Hal yang menarik adalah informasi hoax terkadang juga muncul di media televisi. Pasti kita pernah mendapati acara-acara televisi dimana para ahli yang diundang sebagai narasumber ternyata tidak semuanya adalah orang yang memiliki penguasaan ketat di bidang tertentu. Banyak kasus yang dipilih adalah orang-orang yang hanya lancar dalam komunikasi dan retorika debat.


Pertanyaan yang mengelitik adalah mengapa orang percaya berita bohong (hoax)? Apakah mereka tidak mengecek kebenaran dari informasi? Ataukah masa bodoh? Kalau masa bodoh atau tidak sempat mengecek kebenarannya, mengapa tetap meneruskan (forward) informasi tersebut? Atau apakah mencari kebenaran informasi bukanlah isu utama dewasa ini?


Mungkin sebagai seorang saintis kita perlu merenungkan pertanyaan-pertanyaan terkait hal tersebut supaya paling tidak kita bisa memikirkan jalan alternatif bagi komunikasi sains.


Sebelum sedikit memikirkan hal tersebut, ada baiknya kita menempatkan sudut pandang yaitu tidak ada orang yang secara sengaja dan sadar menginginkan informasi yang salah. Justru sebaliknya: orang secara sadar membentuk kepercayaan mereka berdasarkan informasi yang mereka anggap benar. Secara eksplisit, mereka menginginkan kebenaran, kebenaran yang lengkap, dan tidak lain kebenaran sederhana. Akan tetapi, secara paradoksal, orang-orang secara luas mengonsumsi informasi palsu.


Terlepas dari keinginan sadar akan informasi yang benar, motif-motif lain yang tidak disadari mendorong proses pembentukan kepercayaan.[4] Suatu pesan mungkin menarik bagi orang-orang karena pesan tersebut meresponi keinginan mereka. Dalam keadaan ini, pesan dapat diterima berdasarkan keyakinan, tanpa banyak bukti dan tanpa verifikasi ekstensif. Dua jenis motivasi sangat relevan di sini: kebutuhan akan kepastian (diaktifkan terutama pada saat terjadi gejolak dan perubahan), dan kebutuhan untuk hasil yang spesifik.


Ketika kebutuhan untuk kepastian diaktifkan, orang akan tertarik pada pesan sederhana yang dapat mengirimkannya. Jadi, pesan palsu yang diutarakan dengan kepastian sederhana, lebih cenderung dipercaya dan diterima tanpa banyak pengawasan. Dalam hal ini saya cenderung setuju bahwa hoax dapat dikategorikan sebagai omong kosong (bullshit)[5] , khususnya bahwa kita terlalu toleran terhadap hoax. Bahkan lebih toleran terhadap pesan palsu, dimana pesan palsu kita anggap sebagai suatu pelanggaran yang langsung menyerang kita. Sedangkan hoax memiliki karakteristik yang berbeda.


James Fredal menulis artikel menarik berjudul “The Perennial Pleasure of the Hoax”.[6] Disana diterangkan bahwa hoax dispekulasikan telah ada sejak tahun 1675, dimana kata hoax diturunkan dari kata “hocus” yang adalah kependekan dari “hocus pocus”. Apabila diperhatikan maka elemen dari hoax dapat ditelusuri ke asal-usul teori retorika, terutama dalam strategi probabilitas dan kemungkinan kontra (counterprobability) yang dikembangkan oleh orator dan para Sufis. Kemudian Fredal menjelaskan bahwa dengan teknik retorik tersebut mentrasportasikan audien dari kepercayaan dan penerimaan kepada keraguan dan ketidakpercayaan. Hal ini menunjukan penguasaan teknis atas konvensi retorika dari genre tersebut untuk menjelekan target, menghibur, dan memberikan instruksi kepada audien.


Ditengah dasyatnya arus informasi dan komunikasi, saya lebih setuju kita membangun bagaimana budaya perangai ilmiah (Scientific Temper) di Indonesia. Pendidikan harus mampu mengasah manusia memiliki gaya hidup baik cara berfikir maupun bertindak berdasarkan metode ilmiah. Manusia Indonesia yang kritis, mampu mengajukan pertanyaan, observasi realitas, menguji, menarik hipotesis, menganalisa dan mengomunikasikan kebenaran. Diskusi-diskusi dan argumentasi-argumentasi menjadi bagian vital dalam mengembangkan budaya perangai ilmiah tersebut. Tentunya manusia yang dewasa seperti itu memiliki sikap terbuka dan berani mengubah pendapat lamanya berdasarkan bukti dan memiliki kedisiplinan menggunakan akal sehat.

[1] Pappas, S. Mitochrondria or Midi-Chlorians? ‘Star Wars’ Hoax Peper Published in 4 Journals. Live Science (2017), July 25. https://www.livescience.com/59927-midi-chlorians-paper-accepted-by-journals.html [2] Sokal, A. D. Transgressing the Boundaries: Toward a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity. Soc. Text (1996), 46/47, 217-252. doi:10.2307/466856 [3] Secor, M., Walsh, L. A Rhetorical Perspective on the Sokal Hoax. Written Comm. (2004), 21(1), 69-91. Doi: 10.1177/0741088303261037 [4] Lumer, C. Unconscious Motives and Actions – Agency, Freedom and Responsibility. Front. Psychol. (2019), 9, 2777. doi: 10.3389/fpsyg.2018.02777 [5] Frankfurt, H.G. On Bullshit. (2005), Princeton, New York. [6] Fredal, J. The Perennial Pleasures of the Hoax. Philosophy & Rhetoric (2014), 47 (1), 73-97.



11 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua