Cari
  • Tatas Brotosudarmo

Siapkah Pendidikan Tinggi di Era 4.0?

Artikel lama yang belum dipublikasikan, ditulis dalam rangka kegiatan Workshop Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta 2018


Masih segar dalam ingatan kita, ketika Presiden Joko Widodo memberi pidato sambutan di Word Economic Forum, Hanoi, Vietnam 12 September 2018, menyebut Thanos, musuh Avenger dalam film Infinity War. Kisah dalam film karya Marvel Studio dianggap menarik untuk didiskusikan, terutama karena Thanos berupaya melenyapkan setengah populasi alam semesta. Menurut Thanos, populasi semesta harus dikurangi hingga setengahnya karena kepadatan penduduk dianggap tidak sebanding dengan sumber daya yang tersedia. Obsesi Thanos tersebut digunakan Presiden Joko Widodo untuk menyinggung kondisi perekonomian dunia saat ini. Selanjutnya Presiden Jokowi menyatakan tidak sependapat dengan gagasan Thanos, karena pada kenyataannya kapasitas sumber daya manusia itu tidak terbatas. Menariknya pernyataan tersebut kemudian dikaitkan dengan revolusi industri 4.0, dengan program pemerintah yang diberi nama “Making Indonesia 4.0”. Di penghujung akhir tahun 2018 ini, patut kita berefleksi dengan bertanya: Apakah masyarakat khususnya Perguruan Tinggi di Indonesia siap dengan revolusi industri 4.0?


Revolusi industri 4.0 tidak dapat dibendung, sehingga bisnis di segala bidang harus bersiap menghadapi perubahan global dunia. Konsep revolusi industri 4.0 diperkenalkan oleh Klaus Schwab, pendiri dan kepala eksekutif World Economic Forum dalam artikel yang ditulisnya tanggal 14 Januari 2016. Menurut Schwab revolusi industri pertama menggunakan energi air dan uap air untuk menghidupkan mesin produksi. Revolusi kedua adalah ketika listrik digunakan sebagai energi untuk produksi masal. Revolusi ketiga terjadi saat teknologi elektronik dan teknologi informasi mendorong otomatisasi produksi. Revolusi industri keempat saat ini dibangun dari fondasi revolusi ketiga, namun pembatas antara bidang-bidang keahlian dan iptek seakan-akan menjadi samar. Revolusi industri 4.0 mengombinasikan teknologi informasi, kecerdasan buatan dan fusi dari perkembangan ilmu-ilmu biologi, kimia dan fisika.


Klaus Schwab menyatakan bahwa revolusi industri 4.0 tidak hanya mengubah apa yang kita lakukan tapi juga siapa kita. Revolusi ini memberikan dampak terhadap identitas diri kita dan juga isu-isu yang terkait dengannya, seperti rasa privasi, pengertian tentang kepemilikan, pola konsumsi, waktu yang kita curahkan untuk bekerja dan bersantai, mengembangkan karier, menumbuhkan keterampilan, bertemu rekan, bahkan dalam memelihara hubungan. Mau tidak mau, sadar atau tidak sadar, teknologi akan membentuk ulang kemanusiaan. Teknologi seperti pedang bermata dua; dapat melindungi atau menyukseskan pemegangnya, tapi juga dapat menghancurkan. Sebagai contoh teknologi komunikasi dan informasi telah digunakan untuk memudahkan aktivitas manusia, mengefisienkan banyak hal dan menghilangkan sekat-sekat geografis dan administratif. Namun teknologi tersebut juga menimbulkan persoalan yang rumit, bahkan pada suatu titik dimana hubungan antar manusia retak, permasalahan kesehatan, pendidikan dan kejiwaan.


Dalam buku berjudul SAINS 45 Agenda Ilmu Pengetahuan Indonesia yang diluncurkan bulan Agustus 2016, cendekiawan muda yang tergabung dalam Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (ALMI) telah secara antisipatif menjawab tantangan revolusi industri 4.0 tersebut. Cendekiawan muda ALMI berpendapat bahwa untuk menjadi bangsa yang kuat dan berdaya saing tinggi, bagaimanapun, Indonesia harus ikut dalam perkembangan dan menjadi bagian dari kemajuan teknologi dunia. Namun persoalan besarnya adalah bagaimana menyiapkan diri menjadi bangsa yang tetap memiliki karakter, nilai, dan kebersamaan sosial yang kuat di tengah arus revolusi teknologi ini. Bagaimana menciptakan, mengembangkan dan memanfaatkan teknologi dalam upaya mencerdaskan manusia Indonesia untuk merawat keberagaman dan keutuhan bangsa?


Perlu disadari bahwa kunci menjawab pertanyaan terkait kesiapan masyarakat Indonesia menghadapi revolusi industri 4.0 dalam konteks Indonesia yang beragam tidak lain terletak pada individu itu sendiri. Bukan terletak pada kapasitas ekonomi individu yang mampu membeli, mengimpor dan menggunakan teknologi dari luar negeri. Revolusi industri 4.0 justru memberikan penghargaan yang tinggi dan menempatkan manusia pada posisi sebenarnya yaitu sebagai “Tuan” atas mesin. Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan memiliki peran utama dalam membentuk pribadi manusia sebagai insan kamil. Oleh karenanya kita harus meredefinisikan Pendidikan Tinggi di Indonesia. Pendidikan Tinggi bukanlah job training, sebab manusia bukan sekedar homo faber (konsep manusia sebagai pekerja), namun manusia adalah yang menciptakan dan membuat sesuatu. Vokasi, pekerjaan, teknologi, dan sebagainya, diciptakan oleh manusia untuk manusia, dan bukan sebaliknya manusia untuk pekerjaan.


Arthur Frank Holmes, profesor emiritus filsafat pendidikan dari Wheaton College, mendefinisikan manusia utuh memiliki tiga karakteristik. Karakteristik pertama sebagai pribadi yang berpikir reflektif, artinya tidak hanya terampil dalam menggunakan logika kognitif saja namun memiliki kesadaran penuh sebagai makhluk yang terbatas hanya mampu hanya mengetahui sebagian saja. Menjadi pribadi yang berpikir reflektif, sadar perlunya keterampilan analisis yang kritis, kemampuan untuk melihat hal-hal dalam hubungan, mengorganisasikan ide menjadi sistematis dan bekerja menuju pemahaman yang terpadu. Karakteristik kedua sebagai pribadi yang menilai, artinya sebagai manusia kita membuat penilaian dan mewujudkan nilai tersebut. Tidak dipungkiri hampir 24 jam sehari mulai dari kecil hingga mati, kita melakukan penilaian terhadap sesuatu, mulai dari pangan, sandang, papan, kedamaian, keadilan, cinta, keindahan, komunitas, bahkan diri kita sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain. Karakteristik ketiga adalah sebagai pribadi yang bertanggungjawab. Tidak dipungkiri bahwa kedua kapasitas reflektif dan penilaian di atas dibutuhkan untuk membentuk pemahaman dan penilaian yang tepat sebagai landasan untuk tindakan bertanggungjawab. Holmes kemudian menekankan pentingnya Pendidikan Tinggi yang mampu membidani manusia yang utuh dengan ketiga karakteristik tersebut.


Usaha dalam mengembangkan sistem Pendidikan Tinggi telah dimulai sejak jaman Aristoteles, ketika ia membangun Lyceum. Aristoteles adalah pemikir yang kosmopolitan. Ia mengembangkan kurikulum yang unik, yang menurut pendapat penulis tetap aktual di era Revolusi Industri 4.0. Ia mengembangkan kualitas nilai moral dan intelektual secara berimbang melalui: keluasan pengetahuan, keterbukaan terhadap ide-ide baru, kejujuran intelektual tentang pandangan lain dan tentang masalah-masalah dalam kemampuan diri sendiri, keterampilan analitik dan kritis, kemampuan komunikasi verbal dengan kefasihan dan kerendahan hati, kemampuan mengatakan hal yang benar dengan cara benar dan waktu yang tepat – tidak hanya dalam bentuk laporan bisnis, jurnal ilmiah, atau diplomasi publik, tapi juga dalam kehidupan keluarga, percakapan yang konstruktif, dan saat berinteraksi dengan orang asing. Aristoteles menyatakan kualitas intelektual harus juga mencakup pengertian sejarah. Sejarah memberikan imajinasi yang “membebaskan” kita untuk bekerja dengan baik menangani masalah lama dan baru dengan cara yang baru, dan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan segar. Kemudian kebijaksanaan yang turun ke prinsip-prinsip dasar, menemukan asumsi-asumsi dan melihat apa yang harus diemban, melihat apa yang benar, yang baik dan yang seharusnya, serta membuat keputusan yang tepat. Sistem kurikulum seperti ini dikenal dengan sistem Liberal Arts. Dalam sistem pendidikan tersebut peserta didik diperkenalkan dengan filsafat, sejarah, retorik, logika, seni, literatur, kesehatan, olah raga dan sosial yang menjadi fondasi dalam mempelajari matematika, fisika, biologi, kimia dan bidang-bidang lain perpaduan darinya seperti kita kenal sebagai bioteknologi, nanomaterial, genetika molekuler, kecerdasan buatan, dan sebagainya. Melalui sistem tersebut diharapkan lahir pribadi-pribadi yang peka dan adaptif dalam menggunakan dan mengembangkan iptek pada waktu dan kondisi yang tepat, khususnya dalam era revolusi industri 4.0.


Namun kurikulum yang baik saja ternyata tidak cukup untuk membangun Pendidikan Tinggi yang siap dalam era revolusi industri 4.0. Pada bulan Februari tanggal 5-7 dan bulan Mei tanggal 21-23, 2018, diselenggarakan Indonesia Dean’s Course for Private Higher Education Institution (INADC-PHEI), suatu program workshop kepemimpinan untuk dua puluh lima pimpinan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terdiri dari rektor, wakil rektor, dekan dan wakil dekan. Workshop tersebut bertema “Penguatan Kepemimpinan dan Budaya Mutu Akademik Perguruan Tinggi Swasta se-Indonesia” tersebut diikuti oleh 24 institusi PTS terpilih. Ada beberapa catatan hasil dari INADC-PHEI tersebut yang relevan terkait kesiapan Pendidikan Tinggi menyongsong revolusi industri 4.0.


Berdasarkan Buku Statistik Pendidikan Tinggi tahun 2017 yang diterbitkan oleh Kemenristekdikti total mahasiswa yang terdaftar di Indonesia sebanyak lebih dari 6,9 juta orang dan lebih dari 4,7 juta mahasiswa tersebut terdaftar di perguruan tinggi swasta. Dengan angka sebesar 68% tersebut, perguruan tinggi swasta memegang peran yang sangat penting dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia. Namun demikian, 3154 institusi pendidikan tinggi yang ada di Indonesia belum memiliki kesetaraan kualitas yang diharapkan. Oleh sebab itu, pengembangan perguruan tinggi swasta perlu diperhatikan dalam mengambil langkah kebijakan ke depan.


Dalam upaya meningkatkan kesetaraan kualitas tersebut, Badan penyelenggara Perguruan Tinggi dan pucuk pimpinan institusi Pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Badan penyelenggara (yayasan, perkumpulan, atau setara dengannya) perlu sadar alasan utama membuka bisnis Perguruan Tinggi. Apabila alasannya berorientasi pada profit seperti perusahaan semata, maka dapat dipastikan Perguruan Tinggi tersebut menjadi kuat secara finansial, namun telah kehilangan fungsi utama dalam membidani manusia yang utuh bagi Indonesia. Badan pengelola Perguruan Tinggi juga perlu memilih sumber daya manusia khususnya pucuk pimpinan yang mengelola bisnis tersebut yang memiliki kapasitas sebagai pemimpin, yang menata kelola institusi mereka dan berani untuk melakukan kerja aksi yang dapat mengakselerasi kualitas tata kelola institusinya. Dalam era industri 4.0 ini, pimpinan institusi pendidikan tinggi tidak hanya sebatas sebagai birokrat yang menjalankan tugas-tugas administrasi “pekerjaan meja”. Pimpinan perlu berperan aktif selayaknya para intrapreneur dalam menjalankan tata kelola di institusi pendidikan tinggi yang dipimpinnya, serta sebagai komunikator dan networker yang efektif.


Tidak dapat dipungkiri bahwa figur seorang bapak dan seorang ibu sangat dibutuhkan saat membesarkan anak dalam keluarga yang ideal dan sehat. Dalam membangun sistem Pendidikan Tinggi pada tingkat institusi, pucuk pimpinan yaitu rektor, wakil rektor dan dekan berperan aktif sebagai figur tersebut. Oleh sebab itu, dibutuhkan kualitas dan kerja -extra miles saat menjabat pada posisi strategis tersebut dan meninggalkan legasi yang baik bagi generasi berikutnya. Posisi penting ini sering dikaitkan dengan kursi politis, bukan sebagai poros utama penggerak dinamika kemajuan Pendidikan Tinggi. Akibatnya fungsi Pendidikan Tinggi secara holistik sebagai figur inspiratif anak bangsa dalam pengembangan sains dan iptek serta pembentukan pribadi manusia yang utuh menjadi kabur.


Figur kedua yang penting dalam membangun sistem Pendidikan Tinggi tidak lain adalah dosen, dimana dosen berinteraksi secara langsung dan mempengaruhi peserta didik, serta berperan aktif dalam memajukan iptek. Dosen memiliki panggilan agung sebagai arsitek jiwa bagi peserta didik. Dosen yang dengan aktif merespons panggilannya sebagai cendekiawan dan pendidik dengan penuh integritas dan profesional dalam mencerdaskan manusia Indonesia untuk merawat keberagaman dan keutuhan bangsa, pada era revolusi industri 4.0 ini sangat dibutuhkan. Beberapa kasus yang muncul akhir-akhir ini terkait self-plagiarism justru menimbulkan efek kontra produktif terhadap figur pendidik yang berintegritas. Namun perlu disadari bahwa secara umum kualitas dosen di Indonesia masih perlu ditingkatkan, melalui sistem jenjang karier yang mendukung kualitas kedosenan. Sebagai contoh kualitas dosen dapat dinilai dari kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dapat diukur dengan berbagai parameter dan kriteria antara lain h-index dan karya-karya yang diakui oleh masyarakat ilmiah di tingkat nasional dan internasional.


Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi, pimpinan, dosen dan kurikulum merupakan faktor internal utama dalam mengembangkan pendidikan tinggi berkualitas menyongsong revolusi industri 4.0. Faktor internal lain yang perlu diperhatikan adalah fasilitas modern yang mendukung peserta didik mengembangkan talenta dan sistem tata kelola finansial institusi Perguruan Tinggi. Sedangkan faktor eksternal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan kapasitas manusia adalah keseriusan dan sinergi dalam kebijakan serta eksekusi diaras makro yang mendukung dari segi sistem dan pendanaan, yang memungkinkan institusi pendidikan tinggi di Indonesia dapat berkiprah dengan aktif dan produktif dalam koridor mencerdaskan manusia Indonesia, menciptakan, mengembangkan dan memanfaatkan teknologi untuk merawat keragaman dan keutuhan bangsa. Ki Hajar Dewantoro mengatakan “ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”.




22 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua